Powered By Blogger

Selasa, 17 Januari 2012

KAJIAN FEMINISME SEBUAH KARYA SASTRA

MAKALAH

TEORI ANALISA FEMINISME DALAM CERPEN KAMAR DALAM KAMAR YANG BERJUDUL DUA HATI MENYATU

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kulih Teori Sastra
Dosen : Dr. Ikin Syamsudin Adeani, M. Pd.










Oleh :
JUJU JUNAEDI
NPM. 2108110112



PROGAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS GALUH
CIAMIS
2011




KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, penulis telah selesai menyusun makalah berjudul “Teori Analisa Feminisme pada Cerpen Kamar dalam Kamar yang Berjudul Dua Hati Menyatu” sebagai salah satu tugas pada Mata Kuliah Teori Sastra Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Galuh.

Penulis menyadari akan kekurangan-kekurangan makalah ini yang menjadikannya dorongan untuk lebih giat lagi dalam belajar. Karena itu sepantasnya penulis haturkan terima kasih kepada Bapak Dr. Ikin Syamsudin Adeani, M. Pd. sebagai Dosen Mata Kuliah Teori Sastra yang telah memberikan bimbingannya, juga kepada semua pihak yang telah membantu kelancaran penyusunan makalah ini. Semoga amal baiknya diterima disisi Allah SWT.

Akhirnya segala kritik dan saran yang membangun makalah ini sangat penulis nantikan untuk peningkatan kualitas di masa berikutnya.



Ciamis, 10 Oktober 2011

Penulis

























DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1   Latar Belakang 1
1.2   Rumusan Masalah 1
1.3   Tujuan  1
1.4   Manfaat  1
BAB II SEKILAS TENTANG FEMINISME  2
BAB III CERPEN KAMAR DALAM KAMAR “DUA HATI MENYATU”                 3
3.1 Sinopsis 3
3.2 Analisis 4
BAB IV PEMBAHASAN  5
4.1   Pengertian Feminis  5
4.2     Teori Analisa Feminis  8
BAB V PENUTUP11
5.1 Simpulan 11
5.2 Saran  11
DAFTAR PUSTAKA 12



BAB I
PENDAHULUAN

1.1.  latar Belakang
Adanya dorongan ingin menyetarakan hak antara pria dan perempuan yang selama ini seolah-olah perempuan tidak dihargai dalam pengambilan kesempatan dan keputusan dalam hidup. Perempuan merasa terkekang karena superioritas laki-laki dan perempuan hanya dianggap sebagai”bumbu penyedap” dalam hidup laki-laki. Adanya pemikiran tersebut tampaknya sudah membudaya sehingga perempuan harus berjuang keras untuk menunjukkan eksistensi dirinya di mata dunia.

1.2.  Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas maka timbul beberapa rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini, yaitu:
1.        Apa Pengertian Feminisme ?
2.        Bagaimana Teori Analisa Feminisme itu ?

1.3.  Tujuan
Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah :
1.        Untuk Mengetahui Pengertian Feminisme
2.        Untuk Mengetahui  Teori Analisa Feminisme

1.4.  Manfaat
Makalah ini disusun dengan harapan dapat bermanfaat :
1.        Untuk menambah wawasan mahasiswa tentang teori sastra, terutama dalam kajian feminisme
2.        Untuk bahan reverensi bagi siapa saja yang tertarik pada sastra.



BAB II
SEKILAS TENTANG FEMINISME

Feminis berasal dari kata ”Femme” (woman), berarti perempuan (tunggal) yang berjuang untuk memperjuangkan hak-hak kaum perempuan (jamak) sebagai kelas sosial (Ratna,2004: 184). Tujuan feminis menurut Ratna (2004: 184) adalah keseimbangan interelasigender. Feminis merupakan gerakan yang dilakukan oleh kaum wanita untuk menolak segala sesuatu yang dimarginalisasikan, disubordinasikan, dan direndahkan oleh kebudayaan yang dominan, baik dalam tataran politik, ekonomi, maupun kehidupan sosial lainnya.






















BAB III
KAJIAN FEMINISME
CERPEN KAMAR DALAM KAMAR “DUA HATI MENYATU”

3.1. Sinopsis
Tokoh utama dalam cerita ini adalah Anita. Ia adalah seorang gadis kampus Fakultas Keuruan dan Ilmu Pendidikan Jurusan Pedidikan Bahasa Inggris.
Pada suatu pagi, di kampus itu Anita duduk di atas kursi tembok di bawah ketapang untuk menunggu sahabatnya yang bernama Eci, untuk menghilangkan rasa jenuhnya ia sesekali membaca materi pengkuliahan hari itu dan sesekali sambil melamun. Tiba-tiba ia di kagetkan dengan dengan kedatangan sebuah mobil Avanza hitam. Tingkahnyapun menjadi tidak karuan hanya dengan kedatangan seorang dosen yang membawa  Avanza tadi. Padahal dosen itu tidak pernah berkata apapun selama di kampus kepada Anita paling-paling hanya tersenyum.
Tidak lama kemudian Anita di kagetkan yang kedua kalinya. Dosen yang tadi berada di dalam mobil kini berada di hadapannya. Jantungnya berdegup dengan cepat dan tingkahnyapun kembali tidak karuan. Akhirnya dosen itupun duduk disamping Anita sambil bertanya tentang keadaan kamus yang sepi akan lalu lalang mahasiswa.
Lama mereka berbicara sambil duduk, dalam fikiran anita ia membayangkan apa kata teman-temannya nanti jika melihat mereka berdua saat itu seakan-akan mereka telah ada janji sebelumnya.
Pada akhirnya dosen itu menawarkan diri untuk mengantarkan Anita pulang. Anitapun terpaku karena tidak percaya seorang dosen yang kandidat Doktor bersedia mengantarkan pulang seorang mahasiswi calon S1. Walaupun dalam hati kecilnya ia menyukai dosen tersebut, Anita dengan sengaja menolak ajakan dosen itu dengan alasan hendak bermain kerumah sahabatnya dulu yang bernama Eci.
Anitapun lekas berdiri dan bergegas pergi kerumah Eci untuk menceritakan kejadian tadi. Sesampainya di rumah Eci munculah dosen tersebut dari arah belakang rumah Eci. Anitapun merasa heran, namun Eci menjelaskan kepada Anita bahwa dosen itu adalah pamannya bernama Dena. Ecipun menjelakan pula bahwa pamannya itu menyukainya dengan harapan Anita dapat menerimanya.
           
3.2. Analisis
            Dari sinopsis cerpen Kamar dalam Kamar yang berjudul Dua Hati Memyatu ini dapat kita kaji berdasarkan kajian Feminisme.
Pehatikan sinopsis cerpen di atas yang terdapat pada paragraf lima (5). “Pada akhirnya dosen itu menawarkan diri untuk mengantarkan Anita pulang. Anitapun terpaku karena tidak percaya seorang dosen yang kandidat Doktor bersedia mengantarkan pulang seorang mahasiswi calon S1. Walaupun dalam hati kecilnya ia menyukai dosen tersebut, Anita dengan sengaja menolak ajakan dosen itu dengan alasan hendak bermain kerumah sahabatnya dulu yang bernama Eci.”
Berdasarkan potongan sinopsis diatas yang bergaris bawah dapat kita simpulkan bahwa tidak selamanya kaum laki-laki selalu mendominasi kaum perempuan. Hal itu terbukti bahwa Anita dengan sengaja menolak ajakan seorang dosen yang bernama Dena utuk mengantarkannya pulang. Dengan begitu dalm certa ini bahwa kaum perempuanlah yang menang atas kaum laki-laki.














BAB IV
PEMBAHASAN

4.1. Pengertian Feminisme
Feminis berasal dari kata ”Femme” (woman), berarti perempuan (tunggal) yang berjuang untuk memperjuangkan hak-hak kaum perempuan (jamak) sebagai kelas sosial (Ratna,2004: 184). Tujuan feminis menurut Ratna (2004: 184) adalah keseimbangan interelasigender. Feminis merupakan gerakan yang dilakukan oleh kaum wanita untuk menolak segala sesuatu yang dimarginalisasikan, disubordinasikan, dan direndahkan oleh kebudayaan yang dominan, baik dalam tataran politik, ekonomi, maupun kehidupan sosial lainnya.
Dalam arti leksikal, feminisme ialah gerakaan wanita yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum wanita dan pria. Feminisme ialah teori tentang persamaan antara laki-laki dan wanita di bidang politik, ekonomi, dan sosial; atau kegiataan terorganisasi yang memperjuangkan hak-hak serta kepentingan wanita. Dalam pandangan studi kultural, ada lima politik budaya feminis, yaitu :
a)      feminis liberal,memberikan intensitas pada persamaan hak, baik dalam pekerjaan maupun pendidikan,
b)      feminis radikal, berpusat pada akar permasalahan yang menyebabkan kaum perempuan tertindas, yaitu seks dan gender,
c)      feminis sosialis dan Marxis, yang pertama memberikan intensitas pada gender,sedangkan yang kedua pada kelas,
d)     feminis postmodernis, gender dan ras tidakmemiliki makna yang tetap, sehingga seolah-olah secara alamiah tidak ada laki-laki danperempuan, dan
e)      feminis kulit hitam dan non Barat dengan intensitas pada ras dankolonialisme (Ratna, 2005:228).
Dalam ilmu sastra, feminisme ini berhubungan dengan konsep kritik sastra feminis, yaitu studi sastra yang mengarahkan fokus analisis kepada wanita. Kritik sastra feminis bukan berarti pengeritik wanita, atau kritik tentang wanita, atau kritik tentang pengarang wanita. Arti sederhana yang dikandung adalah pengeritik memandang sastra dengan kesadaran khusus; kesadaran bahwa ada jenis kelamin yang banyak berhubungan dengan budaya, sastra, dan kehidupan. Membaca sebagai wanita berarti membaca dengan kesadaran membongkar praduga dan ideologi kekuasaan laki-laki yang androsentris atau patrialkal, yang sampai sekarang masih menguasai penulisan dan pembacaan sastra. Perbedaan jenis kelamin pada diri penyair, pembaca, unsur karya dan faktor luar itulah yang mempengaruhi situasi sistem komunikasi sastra. Endraswara (2003: 146) mengungkapkan bahwa dalam menganalisis karya sastra dalam kajian feminisme yang difokuskan adalah:
a.       kedudukan dan peran tokoh perempuan dalam sastra,
b.      ketertinggalan kaum perempuan dalam segala aspek kehidupan, termasuk pendidikan dan aktivitas kemasyarakatan,
c.               memperhatikan faktor pembaca sastra, bagaimana tanggapan pembaca terhadap emansipasi wanita dalam sastra..
                Kolodny dalam Djajanegara (2000: 20-30) menjelaskan beberapa tujuan dari kritik sastra feminis yaitu:
a.       dengan kritik sastra feminis kita mampu menafsirkan kembali serta menilai kembali seluruh karya sastra yang dihasilkan di abad silam;
b.              membantu kita memahami, menafsirkan, serta menilai cerita-cerita rekaan penulis perempuan.
Kuiper (Sugihastuti dan Suharto, 2002:68) juga mengungkapkan tujuan penelitian feminissastra sebagai berikut:
a.       Untuk mengkritik karya sastra kanon dan untuk menyoroti hal-hal yang bersifat standar yang didasarkan pada patriakhar;
b.      Untuk menampilkan teks-teks yang diremehkan yang dibuat perempuan;
c.       Untuk mengokohkan gynocritic, yaitu studi teks-teks yang dipusatkan pada perempuan, dan untuk mengokohkan kanon perempuan;
d.      Untuk mengeksplorasi konstruksi kultural dari gender dan identitas.
Sasaran penting dalam analisis feminism sastra sedapat mungkin berhubungan dengan hal-hal sebagai berikut:
a         Mengungkap karya-karya penulis wanita masa lalu dan masa kini agar jelas citrawanita yang merasa tertekan oleh tradisi. Dominasi budaya partikal harus terungkap secara jelas dalam analisis.
b        Mengungkap tekanan pada tokoh wanita dalam karya sastra yang ditulis oleh pengarang pria.
c                  Mengungkapkan ideologi pengarang wanita dan pria, bagaimana mereka memandang diri sendiri dalam kehidupan nyata..
d        Mengkaji dari aspek ginokritik, yakni memahami bagaimana proses kreatif kaumfeminis. Apakah penulis wanita akan memiliki kekhasan dalam gaya dan ekspresi atau tidak.
e         Mengungkap aspek psikoanalisa feminis, yaitu mengapa wanita, baik tokoh maupun pengarang, lebih suka pada hal-hal yang halus, emosional, penuh kasih sayang dan sebagainya.
Selden (Pradopo, 1991:137) menggolongkan lima fokus sasaran pengkajian sastra feminis:
a         Biologi, yang sering menempatkan perempuan lebih inferior, lembut, lemah, dan rendah;
b        Pengalaman, sering kali wanita dipandang hanya memiliki pengalaman terbatas,masalah menstruasi, melahirkan, menyusui dan seterusnya;
c         Wacana, biasanya wanita lebih rendah penguasaan bahasa sedangkan laki-lakimemilki “tuntutan kuat”. Akibat dari semua ini akan menimbulkan stereotip yangnegatif pada diri wanita, wanita sekedar kanca wingking
d        Proses ketidaksadaran, secara diam-diam penulis feminis telah meruntuhkanotoritas laki-laki. Seksualitas wanita besifat revolusioner, subversif, beragam, danterbuka. Namun demikian, hal ini masih kurang disadari oleh laki-laki.
e         Pengarang feminis biasanya sering menghadirkan tuntutan sosial dan ekonomi yang berbeda dengan laki-laki.


4.2. Teori Analisa Feminisme
Dalam menilai karya sastra, cara yang sering dipakai adalah analisa secara tekstual. Salah satu bentuk yang lain yang juga digunakan dalam memahami karya sastra adalah analisis tekstual feminis. Analisis tekstual feminis mengandung dua hal yang penting yaitu analisis tekstual dan analisis feminis. Perempuan menulis sendiri sebenarnya merupakan sebuah upaya untuk melakukan penilaian, mempertanyakan dan menolak pola pikir laki-laki yang selama ini ditanamkan kepada perempuan. Selain itu juga merupakan keberanian dan kekuatan untuk mengambil pilihan sehingga mengubah kritik sastra dari ‘dialog yang tertutup’ menjadi ‘dialog yang aktif’. Menjadi kritisi feminis berarti mampu membaca dengan kesadaran atas dominasi ideologi patriarki dan wacana laki-laki, dan dengan kesadaran serta keinginan untuk mendobrak dominasi tersebut. Seorang feminis dalam karya sastra-nya dapat sajamerupakan seorang yang pluralistik dalam pilihan metode serta teori sastra yang dipergunakannya, karena pada dasarnya pendekatan apapun yang dimanfaatkan, selama itu sesuai dengan tujuan politisnya. Ada beberapa macam pendekatan analisis sastra (teks) yaitu:
1.              Kritisisme dengan perskriptif (perscriptive criticism) menawarkan sebuah cara untuk menentukan peran pembebasan yang dapat dimainkan kesusasteraan dan kritik feminis. Menurut Cheri Register (1975), untuk menjadi feminis, sebuah teks atau karya sastra/tekstual harus memenuhi  satu atau lebih fungsi di bawah ini :
a.       Sebagai suatu forum bagi perempuan. Artinya perempuan dibiarkan bebasberbicara danmenceritakan pengalamannya dan perasaannya tanpa harus berusaha untukmemenuhi standaryang ditetapkan oleh laki-laki.
b.      Membantu tercapainya androginitas budaya. Pada dasarnya gerakan feminismeinginmenciptakan tatanan sosial yang lebih menghargai nilai-nilai perempuan yangselama ini tidakcukup dihargai. Penciptaan karakter perempuan yang terlalu macho atau kejam danmengagungkan kekuatan fisik tidaklah berarti feminis karena hal ini berarti masihberangkat darisifat kemaskulinan.
c.       Menyediakan metode contoh teks yang feminis menyediakan ruang bagi perempuanuntukmelakukan eksplorasi kemungkinan-kemungkinan baru dan mengevaluasi alternatif yang terbukabagi dirinya, dan pada saat yang sama menunjukkan bahwa pembebasanmerupakanpengetahuan yang berat, yang dimulai dari diri sendiri dan diakhiri dari diri sendiri.
d.      Mempromosikan persaudaraan perempuan (sisterhood) teks, atau kritik feminismeharusmemungkinkan perempuan untuk menyadari perbedaan dirinya dengan perempuanlain, dandaripada saat yang sama menghargai persaman pengalaman dengan perempuanlain dan untukmemutuskan suatu tindakan ‘politis’.
2.              Kritik sastra gynocritics adalah mengkonstruksi suatu suatu bingkai kerja yang akan menganalisa perempuan dalam karya sastra (atau teks) berdasarkan pengalaman perempuan, dan bukan mengadaptasi model serta teori laki-laki. Cara ini dimulai dengan membebaskan diridari cara pandang laki-laki, menggantikannya dengan cara pandang perempuan dan mengartikulasikannya dalam budaya perempuan. Tokoh yang memperkenalkan ini adalah Elaine Showalter. Teori ini didasarkan pada pemikiran bahwa laki-laki lah yang selama ini berusahamendefinisikan perempuandalam budaya..
3.      Kritik sastra feminis sosial atau kritik sastra marxis: kritik sastra feminis yang menelititokoh-tokohpertempuan dari sudut pandang sosialis, yaitu kelas-kelas masyarakat.
4.              Kritik sastra gynesis, teori ini dilandaskan pada pemikiran bahwa perempuan bisasangat patriarkaldan laki-laki pun bisa memberikan efek feminis dan seksis; atau menunjukkan bahwapengalamanperempuan adalah milik perempuan namun seorang laki-laki sebenarnya dapatmenginternalisasikan suara perempuan dan bersimpati terhadap perempuan..
5.      Kritik sastra feminis psikoanalisis: kritik sastra yang cenderung diterapkan pada tulisan-tulisan perempuan yang menampilkan tokoh-tokoh perempuan, karena para feminis percaya bahwa pembaca perempuan biasanya mengidentifikasi dirinya dengan tokoh-tokoh perempuan yang dibacanya, kritik sastra feminis ini berbeda dengan kritik-kritik yang lain; masalah kritik sastra feminis berkembang dari berbagai sumber. Untuk menerapkan diperlukan pandangan luas dalam bacaan-bacaan tentang wanita. Bantuan ilmu lain seperti sejarah, psikologi, dan antropologi misalnya sangat diperlukan, disamping perlu dikuasai teori kritik yang sudah dimiliki sejak awal oleh kritikus feminis itu. 
Menurut Ratna (2005: 226) gerakan feminis secara khusus menyediakan konsep dan teori dalam kaitannya dengan analisis kaum perempuan. Sedangkan Ritzer dalam Ratna (2005:231) feminis termasuk teori sosial kritis, teori yang melibatkan diri dalam persoalan pokok dalam konteks sosial, politik, ekonomi, dan sejarah, yang sedang dihadapi oleh kelompok-kelompok yang berada dalam kondisi tertindas. Paling tidak ada empat landasan yang bisa digunakan dalam kritik sastra dengan perspektif feminisme.
a         Kelompok feminis yang berusaha menjadi kritikus sastra dengan melihat ideologinya. Mereka ini umumnya akan menyoroti persoalan stereotipperempuan.
b        Genokritik yang mencari jawaban apakah penulis perempuan itumerupakan kelompok khusus sehingga tulisannya bisa dibedakan dengan penulis laki-laki.
c         Kelompok feminis yang menggunakan konsep sosialis dan marxis. Logikanya, bahwa perempuan itu faktanya tertindas karena tidak memiliki alat-alat produksi yang bisa digunakan untuk bisa menghasilkan uang. Akibatnya, perempuan tidak memiliki kekuasaan dalam keluarga.
d        Menggunakan psiko-analisis yang diambil dariSigmund Freud. Bagi kelompok feminis ini, perempuan iri terhadap laki-laki karena kekuasaan yang dimilikinya.





BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Feminis berasal dari kata feme  (woman), berarti perempuan (tunggal) yang berjuang untuk memperjuangkan hak-hak kaum perempuan (jamak), sebagai kelas sosial. Dalam hubungan ini perlu dibedakan antara male dan female (sebagai aspek perbedaan biologis, sebagai hakikat alamiah), masculine dan feminine (sebagai aspek perbedaan psikologis dan kultural). Dengan kata lain male-female mengacu pada seks, sedangkan masculine-feminine mengacu pada jenis kelamin atau gender, sebagai he dan she ( Seldon, 1986:132).
Tujuan feminis menurut Ratna (2004: 184) adalah keseimbangan interelasigender. Feminis merupakan gerakan yang dilakukan oleh kaum wanita untuk menolak segala sesuatu yang dimarginalisasikan, disubordinasikan, dan direndahkan oleh kebudayaan yang dominan, baik dalam tataran politik, ekonomi, maupun kehidupan sosial lainnya.
Dalam menilai karya sastra, cara yang sering dipakai adalah analisa secara tekstual. Salah satu bentuk yang lain yang juga digunakan dalam memahami karya sastra adalah analisis tekstual feminis. Analisis tekstual feminis mengandung dua hal yang penting yaitu analisis tekstual dan analisis feminis.

5.2. Saran
            Dengan adanya pembahasan-pembahasan diatas, semoga dapat menambah pengetahuan tentang Ilmu Teori Sastra khususnya dalam kajian Fminisme. Pada akhirnya apabila dalam pembahasan tersebut masih ada kekurangan, pemulis harapkan adanya kritik yang sifatnya membangun, guna memperbaiki pembahasan-pembahasan selanjutnya.





DAFTAR PUSTAKA

Ratna, Nyoman Khuta.2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Pustaka Pelajar: Yogyakarta.
Adeani, Ikin Syamsudin. 2011. Kamar dalam Kamar. Batik Press: Bandung.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar